SETIAP KESUKSESAN MEMILIKI JALANNYA SENDIRI

Rabu, 05 Mei 2010 · 0 komentar

Setiap kesuksesan memiliki jalannya sendiri. Selagi seseorang MENITI JALAN itu, dan ia TERUS BERJALAN di atasnya, tidak menyimpang, atau tidak berbalik arah, maka ia pasti akan sampai pada kesuksesan yang ia tuju. Yang membedakannya dari orang-orang lainnya adalah apakah ia akan sampai lebih cepat, atau lebih lambat.

Jadi, seseorang tidak perlu cemas bila ia belum meraih sukses. Yang harus ia cemaskan adalah bila ia salah meniti jalan. Secepat apa pun ia berjalan, jika jalan yang ia pilih adalah salah, maka selamanya ia takkan pernah sampai pada tujuan sukses. Namun, bila jalan yang ia ambil adalah benar, dan ia terus berjalan di atasnya, terus dan terus berjalan.... maka sekalipun terlambat, ia akan tetap sampai juga.... Tidak perlu ia pedulikan apa kata orang dan apa peniliaian mereka.. Yan harus ia pedulikan adalah bagaimana terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas dalam perjalanannya....

Setiap kesuksesan memiliki jalannya sendiri. Sebuah jalan yang mengantarkan seseorang pada sebuah kesuksesan, belum tentu bisa mengantarkannya pada sebuah kesuksesan yang lain. Mungkin sebagian ruas jalan itu ada yang sama-sama bisa mengantarkan orang tersebut pada beberapa kesuksesan. Seperti halnya sebuah ruas jalan tol bisa mengantarkan seseorang menuju ke beberapa kota tujuan. Namun pada ruas-ruas jalan berikutnya, setiap kota memiliki jalurnya sendiri agar seseorang bisa sampai kepadanya.

Ada TIGA TIPE orang berkenaan dengan sukses:


Pertama, bila seseorang menuju TARGET SUKSES-nya dengan kecepatan tinggi, tancap gas tinggi-tinggi, dengan tingkat konsentrasi yang baik, dengan perhatian yang fokus dan utuh, dengan target waktu yang direncanakan.... Maka ia akan segera sampai lebih awal --ia akan mengalahkan banyak orang-orang lain, bukan saja orang-orang yang berangkat sama dalam satu titik start bersamanya, tetapi juga ia akan menyalip orang-orang yang telah lebih dahulu berangkat di depannya.

Ketika ia telah sampai pada target itulah, orang-orang menyebutnya sukses. Karenanya definisi sukses adalah sebuah kondisi ketika seseorang telah sampai pada tujuannya. Inilah ORANG SUKSES VISIONER... Orang yang mencapai sukses dengan berbekal rencana dan target... Orang seperti ini SANGAT LANGKA, tetapi tetap ada di tengah-tengah kita. Dan siapa pun, termasuk kita, berhak untuk menjadi ORANG UNGGUL ini..

Kedua, bila ia menuju TARGET SUKSES itu dengan cara berjalan yang pelan, kecepatan yang sedang-sedang saja, tancap gas yang rata-rata, maka tentu ia sampai di tujuan sukses dengan terlambat. Ia akan tetap sampai di tujuan, asal ia terus berjalan, tidak berhenti dan menghentikan perjalanannya. Namun ia telah didahului oleh banyak orang --baik oleh orang-orang yang berangkat lebih dulu darinya, maupun oleh orang-orang yang menyalipnya dari belakang...

Pada saat masyarakat melihatnya belum sampai juga di tempat tujuan, maka mereka akan menyebutnya gagal. Jadi, kegagalan adalah ketika seseorang belum sampai di tujuannya. Namun sejujurnya orang itu bukanlah orang gagal... ia hanya orang yang terlambat sukses. Untuk orang seperti inilah berlaku pepatah "Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda." Tipe orang seperti ini adalah tipe ORANG SUKSES YANG TERLAMBAT... Jumlah orang ini banyak sekali... Kita bisa menemukannya di dekat kita --atau jangan-jangan orang itu adalah kita sendiri..

Ketiga, bila seseorang menuju tempat itu dengan kecepatan di bawah rata-rata, menarik gas yang sekadar asal kendaraan tetap bisa beranjak dari tempat semula, lalu berhenti-berhenti, atau mampir sana mampir sini.... Ketika ada yang menarik hatinya di perjalanan, ia berhenti, melihat-lihat, kemudian asyik di perhentiannya itu... Maka, orang seperti ini sangat diragukan untuk bisa sampai di tujuannya. Tidak ada jaminan baginya untuk tetap berkeinginan melanjutkan perjalanan sukses.

Mungkin karena banyak berhenti, atau mampir kiri kanan, sehingga terlena, maka ia sudah tidak lagi bersemangat untuk bisa sampai di tujuannya... atau jangan-jangan ia malah sudah melupakannya sebagai sebuah kejaran dalam hidup yang tersisa... Mungkin ia sudah menetapkan dalam hati bahwa sukses bukan lagi jalan hidupnya, bukan takdir yang harus ia pilih, bukan kenyataan yang harus ia perjuangkan... Ia mungkin akan kembali ke tempat sebelum ia berangkat... atau menetap di tempat ia berhenti yang boleh jadi lebih buruk dari tempat ia memulai perjalanan.

Orang inilah THE REAL LOSER, pecundang yang sesungguhnya. Inilah yang disebut dengan ORANG GAGAL. Kegagalan adalah menghentikan perjalanan menuju target sukses... Dan orang tipe ini tentu jauh lebih banyak lagi dari tipe kedua.....

Akan tetapi, JANGAN REMEHKAN orang gagal, orang yang ada pada kondisi tipe ketiga ini... Dunia tidak ada yang abadi.... Dunia terus bergerak.... Jika mindset-nya telah berubah positif, jika kesadarannya telah pulih kembali, jika semangat suksesnya kembali menggelora dan membakar... Maka, ia bukan saja dapat meraih suksesnya (walau terlambat), melainkan ia bisa menyalip orang-orang yang sebelumnya ada pada tipe kedua...

Lalu... di manakah posisi kita???
Yang jelas, TETAPLAH PADA JALAN SUKSES...
JALUR SUKSES...
Terus berjalan di atasnya, dan selalu mempersiapkan diri lebih baik agar siap tancap gas tinggi, sehingga segera sampai di tujuan....
Tetap BERTEKAD dan BERJUANG, suatu saat kita akan meraih dan menikmatinya.... Bi`aunillah...

Adalah tidak dibenarkan bila seseorang yang baru belajar mengemudi kendaraan, lalu ia berjalan di atas jalan raya untuk jalur cepat, dan ia tancap gas tinggi-tinggi... Tindakan tersebut berdampak pada resiko kecelakaan yang membahayakan dirinya dan orang lain di dekatnya. Orang seperti itu seharusnya melalui jalan biasa yang tidak rawan kecelakaan. Untuk sementara ia cukup berada di jalur lambat. Manakala ia telah siap, kecakapannya meningkat, memiliki ketangkasan dan keterlatihan mengemudi yang mumpuni, barulah ia melintasi jalan raya...

Setiap kesuksesan memiliki jalannya sendiri...
Ia juga memiliki waktunya sendiri....

Salam sukses...!!!

Kamis 6 Mei 2010

Ashoff Murtadha

BELAJAR ARAB - MUDAH

Sabtu, 17 April 2010 · 0 komentar

BELAJAR ARAB - MUDAH
Mudah - Sederhana - Aplikatif - Menyenangkan - Dibutuhkan

U N T U K - U M U M
(Wilayah Bandung)

Inilah TEMUAN SUPERMETODOLOGIS, sebuah cara, sistem, dan pendekatan belajar bahasa Arab yang menyeluruh, aplikatif, dan sangat dibutuhkan. Lahir dari pengalaman 10 tahun bergelut dalam dunia pengajaran bahasa Arab bersama berbagai kalangan yang beragam: mahasiswa S 1, S 2, S 3, dosen, guru, ustadz/ah, karyawan, ibu rumah tangga, majlis taklim, remaja dan lain-lain, dengan tingkat kemampuan awal mereka yang bervariasi....

Kesan belajar bahasa Arab itu sulit, adalah masa lalu. Sekarang, dengan BELAJAR ARAB - MUDAH, belajar bahasa Arab menjadi mudah, aktif, aplikatif, dan menyenangkan....

HANYA :

  1. 16 - 20 pertemuan
  2. Selama 2 - 2,5 bulan ( 8 - 10 pekan )
  3. 2 x pertemuan dalam sepekan (kecuail bila ingin dipadatkan)

RAIH ...
9 KECAKAPAN DALAM 1 PROGRAM

Program ini membekalkan dan membiasakan para pesertanya dengan 9 kecakapan dasar bahasa yang sangat penting sekaligus, yakni:
  1. Membaca (qira`ah),
  2. Menulis (kitabah),
  3. Mendengar (istima`),
  4. Berbicara (takallum), (
  5. Memahami (fahm),
  6. Logika bahasa (manthiq lughawi, tata bahasa),
  7. Rasa bahasa (dzawq lughawi),
  8. Menerjemahkan (tarjamah), dan
  9. Mengarang-menuangkan gagasan (insya`-ta`bir).

Jika Anda ingin bisa MEMAHAMI Al-Quran, Hadits, dan buku-buku berbahasa Arab, dari SINILAH MEMULAINYA....
Jika Anda ingin mulai berani berbicara dengan bahasa Arab, dari SINILAH LANGKAH PERTAMA DIAYUNKAN....!

SYARAT MENGIKUTI PROGRAM INI
Asal Anda sudah lancar membaca dan menulis Al-Quran (Arab), berarti Anda sudah memiliki bekal yang hebat untuk bisa berbahasa Arab, secara pasif dan aktif. Anda sudah pantas untuk bisa membaca, mendengar, memahami, menulis dan juga berbicara dengan bahasa Arab....

PEMBIAYAAN
  1. Pendaftaran : Rp 50.000
  2. Buku : Rp 50.000 (4 buah buku)
  3. SPP : Rp 600.000 (jika dicicil 2 kali) ATAU Rp 500.000 (jika dibayarkan sekaligus di awal)

Jika menghendaki, Anda bisa membuat kelompok belajar sendiri (20 orang), dengan belajar di tempat sendiri....

Call.... 02270901074



SPECIAL REWARD for SPECIAL ACTION...!!!

Dapatkan SPECIAL REWARD bagi Anda yang mengajak orang lain untuk mengikuti program BELAJAR ARAB MUDAH ini:
a. Rp 100.000 dari setiap pendaftar (jika Anda sudah menjadi peserta di AL-SHAFA INSTITUTE)
B. Rp 50.000 dari setiap pendaftar (jika Anda belum menjadi peserta, baru mengisi formulir)

Bergabung dan Ikutilah....

Kelas Perdana Mulai 17 Mei 2010


Untuk kelas yang diadakan di Jakarta, Depok, dan Bogor, ditentukan tersendiri....

Lebih jauh, hubungi :

02270901074

Resensi: MENCINTAI TUHAN LEWAT PEREMPUAN

Senin, 29 Maret 2010 · 0 komentar

MENCINTAI TUHAN LEWAT PEREMPUAN...

Mencintai manusia itu konkret. Sedangkan mencintai Tuhan itu abstrak. Semakin tinggi kualitas cinta seseorang, maka cintanya akan semakin abstrak; objek cintanya juga semakin abstrak. Untuk memahami yang abstrak, seseorang perlu memahami yang konkret. Karena itulah, untuk memahami bagaimana kita mencintai Tuhan, seseorang bisa memahaminya dengan kecintaan kepada perempuan. Konsep tentang cinta kepada perempuan bisa mengantarkan kepada pemahaman tentang cinta kepada Tuhan. Kisah Layla Majnun bisa menjadi jembatan untuk memahami kecintaan kepada Tuhan, cinta sejati dan abadi.

Tidak ada cinta sejati, kecuali cinta Tuhan. Tidak ada yang abadi, selain cinta Ilahi. Kecintaan kepada manusia ada batasnya. Seringnya pertemuan bahkan bisa melahirkan kejemuan seorang pecinta. Mengapa? Karena, jemu sesungguhnya adalah fitrah manusia. Akan tetapi, mencintai Tuhan takkan pernah menjemukan. Alasannya? Karena, berbeda dengan manusia yang bisa dilihat secara langsung dan konkret, maka Tuhan tidak. Tuhan adalah Zat yang Tersembunyi (al-Bathin). Keindahan Teragung-Nya selalu tersimpan rapih dan belum tersingkap. Jika semua keindahan di dunia ini baru satu persen saja, maka Keindahan Teragung yang masih tersimpan masih sembilan puluh sembilan persen lagi. Jadi, bagaimana kita akan jemu mencintai Tuhan yang memiliki seratus keindahan, padahal satu keindahan-Nya saja yang tersebar di seluruh dunia ini pun masih amat sangat luas dan belum tersingkap... Maka, berbahagialah menjadi pecinta Tuhan, pecinta abadi...

Pecinta sejati adalah orang yang melakukan transformasi cinta. Ia bergerak dari kecintaan kepada makhluk, menuju kecintaan kepada Tuhan. Selanjutnya, dari kecintaan kepada Tuhan, menuju kecintaan kepada makhluk, dengan Tuhan. Ia akan selalu bersama-Nya, baik di tempat sunyi maupun ramai.
Menjadi pecinta Tuhan berarti menjadi pembebas kemanusiaan. Menjadi kekasih-Nya berarti mengajak manusia untuk merasakan dan menikmati keindahan-Nya. Mencintai Allah berarti melepaskan belenggu-belenggu yang menjerat leher manusia, agar mereka semakin mudah untuk menuju-Nya...

Buku ini ingin mengantarkan kita kepada cinta. Cinta yang teramat luas, tak bertepi. Ditulis karena cinta, dengan cinta, dan untuk cinta. Ditujukan kepada orang-orang yang ingin meniti perjalanan cinta yang indah, tak menjemukan. Cinta yang menggetarkan, hidup dan menghidupkan... Inilah buku yang ditulis dengan bahasa cinta yang sejuk bagai embun, namun membara bagai api, bergemuruh bagai gelombang, berhembus bagai angin, dan halus menembus bagai cahaya....

Buku karya Ashoff Murtadha ini diterbitkan oleh AL-SHAFA, Bandung Indonesia
Harga: Rp 35.000
Untuk pemesanan, silahkan hubungi: 02270901074 (bisa call atau sms)

Resensi: DIFFERENCE FOR EXCELLENCE

· 0 komentar

DIFFERENCE FOR EXCELLENCE

Perbedaan adalah fitrah dalam penciptaan. Tidak ada satu pun makhluk yang diciptakan sama persis. Tidak ada satu pun manusia yang diciptakan sama seratus persen sekalipun sepasang kembar identik yang tampak begitu sama dalam segala hal. Perbedaan adalah bagian dari sunnah Allah yang takkan berubah, walan tajida lisunnatillah tabdilan (engkau sekali-kali takkan menemukan adanya perubahan dalam sunnah Allah).

Perbedaan adalah jalan dan cara untuk berubah, serta meraih keunggulan dan kesempurnaan. Perbedaan akan membuat seseorang ada, eksis, diakui. Perbedaan adalah keunggulan tanpa sebuah persaingan. Dan keunggulan hanya milik orang yang siap berbeda dari kebanyakan orang. Karena itu, siapa pun yang ingin meraih keunggulan atau ingin ada dan dikenal, ia harus berbeda dari kebanyakan orang. Prestasi --dalam wujud apa pun-- hanya bisa diraih oleh orang-orang yang berbeda dari mayoritas orang yang tidak berprestasi, orang-orang yang biasa-biasa saja.
Pribadi unggul adalah orang yang berbeda, yang mengubah perbedaannya menjadi keunggulan...

Lebih dari itu, sepanjang sejarah, sejarah dan peradaban manusia selalu diawali oleh orang-orang yang dianggap aneh oleh zamannya. Perbedaan adalah awal sejarah dan peradaban. Dan, semua peradaban bermula dari kemunculan figur yang berbeda dari manusia kebanyakan. Karena setiap orang harus menciptakan sejarah, maka ia harus berbeda demi keunggulan.


Faktanya, setiap orang telah dilahirkan berbeda. Akan tetapi, fakta juga menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat melahirkan sejarah keunggulan, baik bagi dirinya maupun --apalagi sekitarnya. Itu artinya, senata-mata perbedaan saja tidak cukup. Perbedaan "hanyalah" modal dasar yang sangat besar, bahan baku yang sangat unggul. Namun, modal dan bahan baku yang tidak dikelola dengan baik dan tepat, sebesar dan sedahsyat apa pun, takkan dapat mengkreasi keunggulan, baik keunggulan kompetitif, keunggulan komparatif, maupun keunggulan substantif.


Buku ini mendeskripsi berbagai hal tentang perbedaan,
difference, mukhalafah. Ia menstimulus para pembaca untuk memahami anugerah dan nilai perbedaan yang telah dimiliki oleh setiap orang. Ia bermaksud membakar setiap pembaca untuk menjadi pribadi achiever, yang mentransformasi perbedaannya menjadi sejumlah keunggulan, menggedor mereka untuk menjadi "aktor sejarah", setidaknya bagi dirinya, lalu memperluas medan sejarahnya selebar yang bisa ia jangkau dan pikirkan, dengan perbedaan dan keunggulan visioner yang dimilikinya.

Buku ini juga dilengkapi dengan ulasan mengenai beberapa figur sejarah --dulu dan kontemporer-- yang inspiratif, supermotivatif, yang membangkitkan pembaca untuk menjadi "pencipta sejarah". Buku ini memiliki kekuatan dahsyat untuk menginspirasi penciptaan sejarah Anda yang juga harus lebih dahsyat.


Buku karya Ashoff Murtadha ini diterbitkan oleh Penerbit Oase Mata Air Makna, Bandung.

Harga: Rp 30.000

Untuk mendapatkannya, bisa hubungi : http://www.kafebuku.com 081320127083 (bisa call atau sms): cp: Rahmat Muntaha

Resensi: BERBEDALAH KAU `KAN ADA

· 0 komentar

Difference is power. Difference is excellence.

Perbedaan adalah kekuatan. Perbedaan adalah keunggulan. Berbeda akan membuat orang dikenal. Dengan berbeda, ia akan ada, eksis. Jika Rene Descartes berujar: "Cogito ergosum" (aku berpikir maka aku ada), maka katakanlah," Aku berbeda maka aku ada."

Jika engkau telah memiliki perbedaan, maka jangan cemaskan persaingan jenis apa pun, di mana pun. Persaingan hanya terjadi pada sesuatu yang sama. Jika engkau termasuk yang takut terhadap persaingan, maka dengan perbedaan yang kaumiliki berarti engkau tidak sedang dalam persaingan. Perbedaan adalah keunggulan tanpa sebuah persaingan. Dan keunggulan hanya milik orang yang siap berbeda dari kebanyakan orang.

Dalam mencari life meaning (makna hidup), semakin tinggi kualitas pencerahan seseorang, maka semakin besar pula dorongannya untuk mewujudkan visi. Semakin besar visi seseorang yang telah tercerahkan, maka semakin besar dan luas pula jangkauan manfaat yang ditimbulkannya. Semakin tinggi kualitas kesadaran seseorang untuk hidup bermakna, maka semakin tinggi pula risiko hidup yang akan siap ia hadapi. Dan... semakin tinggi kualitas nilai yang ia perjuangkan, maka semakin tak berarti apa-apa dunia ini dan segala isinya. Kenikmatan dan ancaman duniawi sama-sama tidak bermakna di matanya. Keduanya hanya akan berada di bawah telapak kakinya. Sebab, yang ia cari dan perjuangkan bukan lagi sesuatu yang terindera, melainkan "eksistensi" dirinya di hadapan Tuhan. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mau hidup dan siap berbeda dari manusia kebanyakan...

Berbedalah, Kau `Kan Ada...!

Buku yang ditulis oleh Ashoff Murtadha ini menstimulus pembaca untuk memperjuangkan kualitas diri dan keunggulan hidup. Buku yang terdiri dari teks-teks pendek dan kumpulan kata mutiara pilihan ini menggedor pembacanya untuk siap berbeda, berjuang dan berkorban demi hidup yang lebih bermakna, demi hidup yang memiliki rasa, demi hidup adiluhung (high-life) di mata Penguasa hidup...

Buku ini juga berisi kumpulan Mahfuzhat Pilihan (kata mutiara berbahasa Arab), yang diulas dalam bahasa ringkas, padat dan bernas. Selain menjadi pemacu motivasi, buku ini juga bisa menjadi buku ajar Mahfuzhat di pesantren atau madrasah yang mengajarkan pelajaran yang sangat menarik itu...

Buku ini diterbitkan oleh penerbit AL-SHAFA, Bandung Indonesia.
Harga: Rp 25.000
Untuk pemesanan, bisa hubungi 02270901074 (call atau sms)

GERAKAN SEKELUARGA HAFAL AL-QURAN DAN HADITS

Senin, 22 Maret 2010 · 0 komentar

KHQH…!

SEKELUARGA HAFAL AL-QURAN DAN HADITS

Masih ingat Husain Thabathaba`i?

Ia seorang bocah Iran yang sangat menakjubkan… Disebut-sebut sebagai mukjizat akhir abad 20. Ia seorang fenomena yang sangat langka. Dalam usia 5 tahun sudah hafal Al-Quran. Bukan saja hafal bunyi ayat, terdapat dalam surah apa, dan juga urutannya dalam Al-Quran ada di mana, tetapi juga ia bisa menafsirkan setiap ayat yang ia hafal. Ia juga bisa memberikan komentar atas sesuatu –yang dilihat, didengar, dan ditanyakan kepadanya—dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran yang ia hafal. Dan… yang lebih menakjubkan lagi, komentarnya itu tepat, relevan dengan sesuatu itu…

Dalam usia 7 tahun, ia diuji oleh para ahli Al-Quran… Dan… pada usia yang seharusnya baru menginjak usia SD kelas 1 itu, ia telah ditetapkan oleh para penguji sebagai Doktor, karena nilainya melebihi angka 90. Ia sudah menjadi doktor pada saat puluhan juta anak seusianya baru saja keluar dari bangku TK. Ia seorang doktor di bidang Al-Quran…. Sebuah keahlian yang langka dicapai oleh orang dewasa sekalipun… Luar biasa..!

Banyak apresiasi dan doa kebaikan meluncur dari tokoh-tokoh kaliber dunia, semisal Ayatullah Ali Khomenei (Pemimpin Tertinggi Iran saat ini), Ali Akbar Hasyimi Rafsanjani (mantar Presiden Iran), Mohsen Qiraati (ahli tafsir), Yusuf Qaradhawi (ulama Syiria yang berpengaruh di kalangan dunia Islam saat ini) dan banyak lagi… Rafsanjani bahkan mengusulkan agar metode kedua orang tuanya itu (metode isyarat) diteliti dan diterapkan oleh publik luas untuk menghafal Al-Quran.

Husain, yang masih keturunan Rasulullah Saw. ini, adalah inspirasi kemanusiaan. Inspirasi tentang kecerdasan.. Inspirasi tentang cinta dan kasih sayang orang tua… Inspirasi tentang cita-cita dan harapan orang tua yang ditransmisikan kepada anaknya… Inspirasi tentang kebaikan dalam sebuah keluarga dan rumah tangga… Inspirasi tentang kekuatan harapan, dahsyatnya kerja keras, luar biasanya ketulusan mendidik anak…. Inspirasi tentang mahalnya sebuah proses menuju keunggulan….

Bagaimana dengan Kita…!!!

Segera setelah berita menakjubkan dari sosok Husain ini tersebar ke seantero jagat, banyak orang tua Muslim di berbagai penjuru dunia merindukan anak-anaknya bisa menghafal Al-Quran… Mereka ingin anak-anak mereka seperti Husain… Tetapi, bagaimana caranya…?? Husain bukanlah sebuah prestasi yang independen semata-mata karena kecerdasannya… Melainkan di atas itu semua adalah karena peran kedua orang tuanya yang luar biasa. Artinya, untuk memiliki anak seperti Husain yang Doktor Cilik Al-Quran itu, berarti kita harus bisa seperti kedua orang tuanya. Justru di sini beratnya bagi kita, mayoritas orang tua….

Mengapa??? Karena, pertama, ibu dan ayah Husain adalah sama-sama hafizh (penghafal Al-Quran) –ini yang sangat berat…!!!. Kedua, ayah-ibunya sama-sama bertekad membentuk anaknya itu hafal Al-Quran. Ketiga, kedua orang tua Husain selalu akrab setiap saat dengan Al-Quran dan segala hal yang berkenaan dengannya, dalam rumah tangganya. Sehingga Husain terdidik, terbiasa, terbentuk dalam suasana Al-Quran, keluarga Qurani….

Baiklah….! Kebanyakan kita, para orang tua, tentu saja tidak seperti kedua orang tua Husain yang hafizh Al-Quran itu… Ini fakta yang membuat kita bersedih. Tetapi, KABAR GEMBIRANYA adalah… kita tidak perlu berkecil hati untuk tetap mencetak anak-anak kita hafal Al-Quran… Kita TETAP BISA BERBUAT SESUATU untuk anak dan keluarga kita dalam rumah tangga. Kita tetap bisa mendesain rumah tangga kita AKRAB bahkan HAFAL AL-QURAN. Hanya saja, tentu targetnya kita turunkan di bawah Husain Thabathaba`i. Dan… kita bisa maksimalkan seluruh potensi keunggulan dalam rumah tangga kita untuk mengejar TARGET ini…. Sebab, target ini RELATIF MUDAH untuk DICAPAI oleh banyak keluarga Muslim… Target ini SANGAT MUNGKIN diraih oleh banyak rumah tangga Muslim di mana pun…. Termasuk ANDA, termasuk MEREKA, termasuk KITA SEMUA….. Mengapa tidak….!!!!

Lebih dari itu, ini KABAR GEMBIRA yang KEDUA, TARGET yang hendak kita capai ini, tidak hanya menghafal Al-Quran saja…. Tetapi bahkan menghafal hadits-hadits Rasulullah Saw. Setelah Al-Quran, hadits-hadits beliau adalah sumber hukum dalam Islam. Alangkah membanggakan, juga membahagiakan, bila kita, anak-anak kita, keluarga kita, mampu menghafal Al-Quran dan Hadits sekaligus…. Sebuah keunggulan yang kini jarang dimiliki oleh keluarga Muslim –mungkin di seluruh penjuru dunia… Subhanallah….!!!!

KABAR GEMBIRA yang KETIGA, ketika target ini telah tercapai, anak-anak kita bukan saja hafal Al-Quran dan Hadits, melainkan ia secara langsung dan otomatis berarti belajar akhlak, belajar hukum, belajar aqidah, belajar muamalah, dan lainnya, secara Islam, sesuai Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw… Mereka –dan kita—belajar hidup dengan Al-Quran dan Sunnah.

KABAR GEMBIRA yang KEEMPAT, karena Al-Quran dan Hadits berbahasa Arab, maka berarti secara otomatis kita belajar bahasa Arab pula. Ketika ayat-ayat Al-Quran dan Hadits bisa kita pahami, berarti kita semakin familiar dengan bahasa Arab, bahkan semakin bergerak maju untuk menguasai bahasa dunia yang menakjubkan sepanjang sejarah itu. Terlebih karena program ini juga menampilkan berbagai MAHFUZHAT (kata mutiara berbahasa Arab) yang berkaitan dengan tema-tema kehidupan di sekitar kita dan anak-anak kita… Karenanya, bahasa Arab akan semakin dekat dengan kita, dan makin dimengerti….

Dengan demiian, berarti kita sedang BERGERAK menuju EMPAT TARGET sekaligus: (1) Hafal Al-Quran, (2) Hafal Hadits, (3) Belajar Islam, dan (4) Belajar bahasa Arab… Keempat target inilah yang tercakup dalam program Se-Keluarga Hafal Al-Quran dan Hadits, disingkat KHQH…!

MARI KITA BAYANGKAN SEJENAK….!!!

Dalam waktu yang tidak lama lagi (semoga)…

Kita, anak-anak kita, dan keluarga kita di rumah, ternyata bisa hafal ayat-ayat Al-Quran dan Hadits secara relevan…

Kita dapat berkomunikasi dengan anak-anak kita menggunakan Al-Quran dan Hadits.

Kita bercakap-cakap, saling berkomentar dan berapresasi bersama mereka, dengan menggunakan Al-Quran dan Hadits.

Kita mengekspresikan perasaan kita (senang, bahagia, kesal, marah, kecewa) dengan Al-Quran dan Hadits. Kita bisa menyebutkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits untuk berbagai tindakan, kegiatan dan tema dalam kehidupan di sekitar kita…

Kita bahkan mengerti arti dan maksud setiap ayat dan hadis yang kita hafal. Di atas itu, kita bahkan kelak bisa menafsirkannya….

Kita mendidik, mengajari anak-anak kita, menyampaikan nilai-nilai keagungan dan kebaikan, langsung dengan menggunakan Al-Quran dan Hadits….

Anak-anak kita, saat mereka masih kecil seusia SD, bisa hafal Al-Quran dan Hadits, bahkan mengerti maksud dan makna dari ayat Al-Quran dan Hadits yang mereka hafal… Kecil-kecil sudah hafal dan paham Al-Quran dan Hadits….

Dan bayangkan pula, bahwa itu semua terjadi di tengah-tengah keluarga kita… Bayangkanlah bahwa ternyata kita bisa menghafal Al-Quran dan Hadits, berbicara dengan keduanya…

Dan itu terjadi pada zaman ini… Terjadi tidak hanya pada keluarga Husain Thabathaba`i… tetapi terjadi pada kita…. Kita mengalami dan merasakannnya…

Sekalipun kita tidak sedahsyat keluarga Husain Thabathaba`i, sekalipun masih jauh untuk dibandingkan dengannya, namun setidaknya kita sudah bisa termasuk barisan penghafal Al-Quran dan Hadits. Sehingga untuk mencapai kapasitas Husain, kita –khususnya anak-anak kita—sudah memiliki modal dan bekal yang cukup diandalkan…. Subhanallah….!

Walaqad yassarnal qur`ana lidzdzikri fahal min muddakir…. Sungguh Kami telah mudahkan Al-Quran untuk diingat (dihafal). Adakah orang yang mengambil pelajaran…?" (QS al-Qamar, 54:17)

MUNGKINKAH KITA BISA…?!!!

Jika Anda –maaf—bukan hafizh Al-Quran, berarti kita bernasib sama. Kita sama-sama bukan hafizh Al-Quran yang hafal Al-Quran 30 juz –sebagian kita hanya hafal juz amma dan beberapa ayat Al-Quran.. Namun, justru fakta inilah yang akan kita jadikan PIJAKAN. Sekalipun kita tidak sampai pada taraf menjadi hafizh Al-Quran yang hafal 30 juz tanpa cacat, namun setidaknya kita sedang bergerak untuk menjadi Penghafal Al-Quran dan Hadits. Dan KITA PASTI BISA…!!! Asal kita sudah lancar membaca Al-Quran (Arab), berarti kita sudah memiliki modal besar untuk mencapai target ini..

TIDAK LAMA LAGI, INSYA ALLAH….

Sekarang ini saya sedang menyusun dan menyiapkan buku untuk kesuksesan program ini. Sambil menyusun dan menyiapkannya, kami juga sedang mencoba menerapkannya secara langsung….

Kami adalah keluarga pertama yang akan menerapkan metode dan program ini dalam rumah tangga kami. Sambil menerapkan untuk keluarga, para santri yang belajar di Pesantren MQA (Ma`had Al-Quran wal Arabiyah), juga turut kebagian, sekalipun mereka hanya mendapatkannya sedikit karena waktu kegiatan mengaji mereka hanya sebentar –ini jelas berbeda dengan rutinitas hidup dalam keluarga. MQA adalah pesantren kecil-kecilan yang saya asuh bersama isteri saya di rumah, di pemukiman tempat kami tinggal. Ibu-ibu pengajian Majlis Zikir Shafawiyah yang kami bina, yang selama ini baru belajar membaca Al-Quran, sekali sepekan di MQA, juga termasuk pihak-pihak yang kami motivasi untuk menerapkan program ini, sebisa yang mereka upayakan. Mereka adalah para tetangga yang putera-puterinya belajar di pesantren MQA… Kepada mereka kami ingin menularkan konsep dan metode ini, agar mereka mencoba menerapkannya bersama anak-anak mereka di rumah mereka… Termasuk juga kepada mereka yang belajar bahasa Arab di lembaga yang kami dirikan dan kelola, AL-SHAFA INSTITUTE. Mereka terdiri dari pada mahasiswa S1, S2, S3, dosen, karyawan, ibu rumah, dan lainnya...

Metode dan program ini memang dibuat untuk diterapkan dan dipraktekkan dalam RUMAH TANGGA, dalam sebuah keluarga di mana mereka menjalani berbagai aktivitas hidup sehari-hari secara riil. Adapun lembaga pendidikan (semisal madrasah, sekolah, pengajian atau pesantren), paling-paling hanya mengenalkan, menyampaikan dan mengajarkan saja. Sedangkan praktek dan penerapannya ada dalam rumah tangga, dalam kehidupan rutin yang bervariasi… Namun begitu, ketika materi-materi dalam program ini disampaikan di lembaga pendidikan, maka itu juga tetap akan bermakna dan memberikan pengaruh besar untuk membentuk anak-anak kecil yang bisa menghafal dan paham Al-Quran dan Hadits, sekaligus belajar bahasa Arab dan akhlak Islam…

Ke depan, ketika buku yang sekarang sedang saya siapkan ini selesai (bismillah allahumma amien), maka sangat mungkin kita akan adakan roadshow pelatihan program KHQH…!!! Buku dan program pelatihan ini kelak akan menularkan manfaat konsep ini kepada masyarakat luas.

BAGAIMANA PROGRAM KHQH…! Ini Bekerja

Prinsipnya, "Jika kita hendak menyampaikan sesuatu kepada anak-anak dan keluarga kita di rumah, berkenaan dengan aktivitas hidup keseharian kita dan mereka, atau berinteraksi dengan mereka, mendidik mereka, menegur mereka, mengapresasi atau menegur mereka, atau bahkan "marah" kepada mereka, maka GUNAKANLAH AYAT AL-QURAN DAN HADITS… sebanyak yang bisa kita hafal!"

Maka, jika aktivitas itu terus berulang-ulang, berlansgsung setiap saat dan setiap hari, maka akan semakin banyak ayat Al-Quran dan Hadits yang kita sekeluarga hafal dan mengerti…. bahkan semakin spontan….

MANFAAT PROGRAM INI

1. Kita (sebagai orang tua), anak-anak, dan keluarga kita di rumah akan TERBIASA HAFAL ayat-ayat Al-Quran dan Hadits yang sesuai dengan kegiatan kita sehari-hari
2. Kita, anak-anak dan keluarga kita di rumah, MENGERTI DAN PAHAM MAKSUD dari setiap ayat Al-Quran dan hadits yang kita hafal
3. Kita, anak-anak dan keluarga kita di rumah TERBIASA SALING BERINTERAKSI satu sama lain, dengan MENGGUNAKANAL-AL-QURN DAN HADITS. Selain itu jelas bernilai ibadah (berpahala) di sisi Allah, kita juga lebih terhindar dari perkataan sia-sia, tidak bermakna, atau keterpelesetan lidah
4. Kita, anak-anak, dan keluarga kita di rumah, BELAJAR ISLAM (aqidah, syariah, muamalah dan akhlak) langsung berdasarkan Al-Quran dan Sunnah (Hadits)
5. Kita, anak-anak dan keluarga kita di rumah, MENJADIKAN AL-QURAN DAN HADIS BENAR-BENAR HIDUP dalam aktivitas rutin kita sehari-hari
6. Kita, anak-anak dan keluarga di rumah, secara otomatis BELAJAR BAHASA ARAB, sehingga kita lebih akrab dan semakin bergerak maju untuk menguasai bahasa Al-Quran tersebut.
7. Kita, anak-anak, dan keluarga kita di rumah DILIPUTI SUASANA IBADAH yang berpahala di sisi Allah. Sebab, kita berbicara, menghafal, belajar, berinteraksi dan memasyarakatkan Al-Quran dan Hadits dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan dorongan dan ziyadah doa dari para sahabat dan saudara-saudaraku, kaum Muslimin semuanya…. Hasbunallah ni`mal wakil ni`mal mawla wa ni`man nashir…. Bismilllah, wa fillah, wa ilallah…. Semoga buku yang sedang saya susun ini segera tuntas dan mendatangkan manfaat bagi umat, lebih cepat… Karena buku inilah yang akan menjadi acuan utama kita menjalankan program ini! NANTIKAN… DAN JEMPUTLAH…!!!

Semoga Allah Swt. selalu menganugerahi kita kebaikan di dunia dan akhirat, membimbing kita menuju keselamatan dan kebahagiaan berjumpa dengan-Nya, menuntun kita menuju Telaga Haudh untuk berjumpa dengan Kekasih-Nya, Rasulullah Muhammad Saw.. Allahumma shalli `ala Muhammad wa `ala ali Muhammad….

KHQH…!

Sekeluarga Hafal Al-Quran dan Hadits

Anak-anak kita, kecil-kecil hafal Al-Quran dan Hadits

Kita, sekeluarga hafal Al-Quran dan Hadits…!!

Salam….

Bandung, Rabu 17 Maret 2010

Ashoff Murtadha

Hidup adalah Mengkreasi Makna

Kamis, 11 Februari 2010 · 0 komentar

HIDUP ADALAH MENGKREASI MAKNA

Hidup adalah anugerah, kenikmatan yang harus disyukuri.
Semua yang hidup, pasti sedang menikmati anugerah tersebut.
Tapi sungguh tidak banyak yang bisa menjadikannya bermakna.

Hidup adalah satu hal.
Sedangkan menciptakan makna hidup adalah hal lain.

Hidup adalah rutinitas yang biasa.
Cacing tanah pun bisa melakukannya.

Kondisi masih bernyawa, mereguk kebebasan, menghabiskan sisa usia, atau memiliki banyak peluang dan kesempatan, itu semua adalah kenikmatan, tapi semuanya itu bukan kebanggaan. Semuanya bukan kemuliaan atau keagungan. Kenikmatan malah tidak jarang menggelincirkan penikmatnya pada kehinaan dan kerendahan...

Sungguh... Kemuliaan ada pada MAKNA yang berhasil diciptakan.
Keagungan ada pada NILAI yang diperjuangkan...
Kebanggaan ada pada sesuatu yang berhasil DICAPAI dan DIUSAHAKAN dengan susah payah...
Kemuliaan, keagungan, juga kebanggaan tidak pernah ada pada sesuatu yang diberikan, melainkan pada sesuatu yang diupayakan...

Dan hidup mulia adalah sejarah perjuangan menciptakan makna...
Sebanyak mungkin, seberkualitas mungkin, seluas mungkin...
Dan itu pasti menuntut kerja keras, keperihan, keteguhan dan keyakinan...
HIDUP MULIA tidak terdapat pada sesuatu yang DIBERI, melainkan pada sesuatu yang DICARI dan DIKREASI....

Maka, berkreasilah... berkaryalah... bermaknalah....
Hiduplah dengan menciptakan makna, agar kelak meraih makna....
Terus berbuat.... sekalipun hasilnya belum bisa kita lihat sekarang....!!

(Ashoff Murtadha)

Ciptakan Satu, Kaulahirkan Seribu

Selasa, 09 Februari 2010 · 0 komentar

CIPTAKAN SATU... KAULAHIRKAN SERIBU

Ini adalah prinsip produktivitas dan kreativitas....
Jika kita ingin mendapatkan banyak hal, maka mulailah dari satu...
Yang satu pada saatnya akan memantik gagasan baru, untuk melahirkna dua, tiga, sepuluh dan seterusnya... Sehingga muncullah produktivitas, kreativitas, inovasi, ide-ide cemerlang yang belum pernah terpikirkan saat kita baru saja memulai yang satu...

Karenanya, untuk melahirkan banyak hal yang produktif, maka mulailah dari satu. Dari situlah kemudian kita akan dipandu untuk melahirkan banyak hal yang baru. Jika kita menginginkan banyak hal dalam hidup, maka kita tidak harus membayangkan, memikirkan apalagi mengerjakan semuanya sekarang ini.

Untuk meraih banyak hal yang kita harapkan, yang harus kita kerjakan sekarang adalah memulai SATU TINDAKAN, sebuah action, yang kita anggap real, logis dan mampu kita lakukan saat ini... Kelak, ketika kita terus menggeluti tindakan yang satu itu, maka ia akan membimbing kita untuk menemukan dan mengerjakan dua, empat, dan delapan tindakan berikutnya... Dan akan terus bermunculan ide-ide baru, gagasan-gagasan baru, dan tindakan-tindakan baru, yang sebelumnya bisa jadi tidak pernah kita bayangkan dan pikirkan sama sekali...


Bila kita menginginkan seribu hasil, maka mulailah sebuah tindakan.
Karena, satu tindakan kelak akan melahirkan seribu hal...
Bilamana satu telah kita ciptakan, maka selanjutnya kita akan melahirkan hal-hal baru berikutnya...
Percuma saja kita memiliki seribu gagasan cemerlang namun tak satu pun berhasil kita wujudkan....
Sungguh.... SATU GAGASAN SEDERHANA yang berhasil diwujudkan, jauh lebih baik daripada SERIBU GAGASAN LUAR BIASA yang hanya berputar-putar di kepala pemiliknya...


Jadi....
Start from one!....

Create one... Get one thousand...!!!
Ciptakan satu, kaulahirkan seribu.

--Ashoff Murtadha--

Minggu, 07 Februari 2010 · 0 komentar

Sekilas Profil

Bismillah...

Assalamu alaikum…

Ahlan
Sahabat…!

Perkenalkan… nama saya Ashoff Murtadha, lahir 26 Oktober 1971, di sebuah desa yang diapit oleh tiga kabupaten di timur Jawa Barat, yakni Majalengka, Indramayu dan Cirebon. Tradisi desa membuat para penduduknya bertutur dengan bahasa Jawa Cerbonan. Namun secara administratif-politik, desa tempat saya lahir dan tumbuh termasuk bagian dari wilayah Kabupaten Majalengka.

Setelah menempuh pendidikan formal di MI, SD dan MTs di desa, juga ditempa pendidikan ba`da maghrib berupa ilmu-ilmu keislaman oleh ayahanda almarhum, juga oleh uwa dan mamang, saya belajar di Pondok Modern Gontor selama 6 tahun, pada tahun 1985-1991. Ketika itu Gontor baru ada satu, yakni hanya di Ponorogo Jawa Timur, dan hanya ada untuk putra saja.

Selama 6 tahun saya belajar dan nyantri di pondok pesantren yang kini memiliki belasan cabang dan ratusan cabang pesantren alumni itu. Saya masuk ke Gontor ketika pesantren ini baru saja sebulan ditinggal oleh KH. Imam Zarkasyi, pendiri terakhir sekaligus Trimurti terakhir dari pesantren ini. Dua dari pendiri dan Trimurti lainnya adalah KH Ahmad Sahal dan KH Zainudin Fannani, yang menghadap Allah Swt. lebih dahulu.

Kelas 1 di KMI Gontor, saya ditempatkan di Kelas 1 J, sebuah kelas yang menempati posisi kedua dari bawah. Ini adalah kelas paling bawah kedua setelah kelas K. Kelas paling tinggi dimulai dari B, lalu C, dan seterusnya hingga K (ada 10 kelas). Di Gontor, urutan kelas B, C, D, dan seterusnya itu menunjukkan peringkat akademis dan suluk (perilaku, akhlak). Saat kelas 2, saya berada di kelas B (saat kelas 2 ada 12 kelas, yakni dari kelas B hingga kelas M). Posisi B ini terus berlanjut saat naik ke kelas 3, 4, 5, hingga 6. Sempat menerima pengajaran langsung di kelas 5 dan 6 oleh KH Abddullah Syukri (pelajaran manthiq), KH Shoiman Lukmanul Hakim (pelajaran fiqh), KH Imam Badri (pelajaran tarbiyah), juga KH Hasan Abdullah Sahal (pelajaran murattal Al-Quran) di masjid jami`. Mereka adalah para pemimpin generasi kedua dari pesantren besar ini.

Saat yudisium kelulusan kelas 6, tahun 1991, dari sekitar 400 an santri, alhamdulillah dipanggil dalam rombongan santri mumtaz (excellent), pada panggilan pertama. Artinya, menempati posisi pertama di antara para santri mumtaz. Puluhan santri mumtaz yang lainnya dipanggil menyusul kemudian. Setelah lulus dari kelas 6 KMI Gontor, saya mendapat “anugerah” kesempatan untuk mengabdi di tempat mana saja yang saya pilih, artinya tidak diwajibkan mengabdi di Gontor atau salah satu cabang alumninya. Sebelumnya memang saya pernah berkonsultasi dengan salah seorang dewan asatidz yang kebetulan wali kelas saya saat kelas 6, yakni Ust. Sofwan Manaf (kini kyai pimpinan Ponpes Darunnajah Jakarta). Intinya saya menyampaikan kepada beliau bahwa kondisi fisik saya sedang tidak sehat, sehingga –jika diperkenankan– saya akan mengabdikan sedikit ilmu saya di luar pesantren saja, yakni di masyarakat. Dan alhamdulillah… dikabulkan. Itulah yang saya maksud dengan “anugerah”.

Selama kurang lebih 7 bulan, setelah selesai dari Gontor, saya mencoba menerjemahkan buku bahasa Arab, dengan bimbingan Agus Efendi, seorang alumni Gontor juga –seorang sosok yang sangat cerdas, kaya dengan “crazy ideas” dan full imajinasi, supermotivatif, dan dahsyat….

Pada tahun 1992-1997, saya menyelesaikan pendidikan S1 di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, jurusan Aqidah-Filsafat, Fakultas Ushuluddin. Alhamdulillah, orangtua telah mendidik kami untuk mandiri, sehingga saya bisa berkontribusi kepada orang tua tercinta, yakni dengan membiayai sendiri SPP kuliah sejak semester 1 hingga selesai. Lulus cumlaude dengan menyelesaikan skripsi yang berjudul “Memahami Agama Hanif” –skripsi yang sejak awal penyusunannya sudah disiapkan untuk menjadi buku. Aktif menulis saat mahasiswa, dan beberapa tulisannya pernah dimuat di Harian Kompas, Media Indonesia, dan jurnal pemikiran Al-Hikmah. Juga aktif menerjemahkan buku, dan pernah mengikuti Lomba Karya Tulis dalam Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa, dan meraih juara 2 –dengan hadiah sejumlah uang yang cukup besar ketika itu. Pada saat semester 8 saya kuliah sambil bekerja dengan mengajar dan menyunting buku, salah satunya di penerbit Mizan. Aktivitas-aktivitas inilah yang membukakan peluang saya untuk bisa “setengah mandiri” saat kuliah –yakni membiaya sendiri semua SPP. Alhamdulillah….

Sahabat…

Ada pengalaman menantang saat saya kuliah semester 3-4, yang selalu saya ingat hingga sekarang –pengalaman yang tidak jarang saya ceritakan kembali kepada beberapa kalangan mahasiswa yang membutuhkan motivasi hidup….

Ketika itu (tahun 1994) saya biasa menerima kiriman uang living cost dari ibunda sebesar Rp 100.000. Uang sebesar itu harusnya saya gunakan untuk kebutuhan makan saya selama satu bulan –begitu memang alokasi yang ibu saya maksudnya. Kebetulan saya masih memiliki beberapa ribu sisa bulan sebelumnya. Hari berikutnya saya pergi ke pasarbuku Palasari Bandung (yang biasa memberikan diskon hingga 25-30 %). Karena banyak buku yang menarik minat baca, ditambah dengan diskon yang besar, akhirnya semua uang kiriman dari ibunda itu saya habiskan untuk membeli buku. Bahkan sisa uang beberapa ribu pun ikut pindah saku, ke saku pedagang buku.

Sepulang membeli buku, saya masih memiliki sisa uang untuk makan hari itu saja. Untuk besok, saya tidak punya lagi. Saya sadar bahwa saya sudah tidak memiliki uang untuk makan selama sebulan ke depan. Tapi saya juga sadar bahwa saya harus membeli sejumlah buku itu –yang hanya bisa saya beli dengan menghabiskan seluruh kiriman dari ibunda… Saya bertawakkal, yakin bahwa Allah Swt. akan memberi jalan. Dan jelas, saya tidak mungkin meminta lagi sejumlah uang kepada ibunda. Sebab, jika saya memintanya lagi, itu bukan saja berarti bahwa saya mengambil hak 3 adik saya yang lain, tetapi juga itu menunjukkan bahwa saya tidak bertanggungjawab terhadap pilihan yang telah diambil. Itu tentu bukan akhlak yang baik….

Maka, pada hari itu juga saya menulis sebuah artikel, dengan mereferensi pada buku-buku yang baru saya beli. Artikel itu saya maksudkan untuk 3 tujuan: Pertama untuk membuat tugas kuliah (matakuliah Filsafat Agama). Kedua untuk saya kirim ke koran. Dan ketiga untuk saya lombakan dalam Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa.

Apa yang terjadi kemudian? Yang jelas, untuk kebutuhan makan selama satu minggu, saya pinjam sejumlah uang kepada teman satu kost. Adapun tugas kuliah, keesokan harinya saya serahkan ke dosen, dan hasilnya adalah saya mendapatkan nilai C –nilai lulus yang paling buruk, karena yang paling baik adalah nilai A lalu B, sedangkan nilai D dianggap tidak lulus. Namun beberapa hari kemudian, artikel saya dimuat di Harian Kompas –saat itu sangat jarang mahasiswa, apalagi semester 3-4, yang tulisannya dimuat di Kompas, bahkan para dosen sekalipun. Teman-teman di kampus geger, karena ada mahasiswa IAIN yang tulisannya dimuat di Harian Kompas. Mereka lebih tidak percaya lagi ketika saya beritahu bahwa artikel yang sama justeru mendapat nilai C dari pak dosen. Seminggu berikutnya, Kompas mengirim wesel dengan nominal Rp 300.o00.

Pada bulan yang sama, artikel itu saya sempurnakan lagi untuk ikut lomba. Singkat cerita, artikel itu memenangkan juara 2, dan berhak atas atas uang Rp 600.000. Beberapa minggu berikutnya artikel lain saya dimuat oleh Harian Media Indonesia. Referensinya sama: buku-buku yang beli dengan menghabiskan uang makan dari ibunda itu. Media Indonesia mengirimkan wesel dengan nominal Rp 135.000.

Dihitung-hitung, uang yang saya terima dari pembelian buku-buku itu adalah Rp 1.035.000. Ini sepuluh kali lipat dari uang yang saya gunakan untuk membelinya. Maka, utang saya lunasi. SPP semesteran dibayarkan. Dan uang makan pun telah kembali, lebih dari sebelumnya… Saya memaknai pengalaman ini sebagai karunia Allah yang bersumber dari sebuah pilihan dan niat yang saya pandang baik. Tawakkal dan keyakinan terhadap kemurahan-Nya pasti melempangkan jalan yang luas dan lapang… Ini pengalaman yang selalu saya ingat… menantang dan berkesan…

Sahabat…

Usai kuliah, saya mencoba mengkonseptualisasi supermetodologi pengajaran bahasa Arab untuk berbagai target dan capaian kompetensi, sekaligus mensosialisasikan dan mengembangkannya. Pada tahun 2000, bersama beberapa teman –dengan pembagian tugas yang berbeda– saya mendirikan AL-SHAFA INSTITUTE for Life Excellence, sebuah pusat belajar kompetensi dan keunggulan, khususnya di bidang bahasa. Di lembaga ini pula saya coba mengenalkan, mensosialisasikan dan mengembangkan konsep edupreneurship –wirausaha pendidikan. AL-SHAFA pulalah yang sekaligus saya jadikan sebagai laboratorium penelitian yang sangat berarti dalam pengembangan konsep-konsep metodologis yang saya sosialiasikan.

Saat ini, aktivitas sehari-hari adalah berkreasi, mengajar, memberikan pelatihan bahasa, mengkonseptualisasi, meneliti, berkarya, menerjemahkan dan menulis buku. Selain menyelenggarakan kelas bahasa di lembaga AL-SHAFA INSTITUTE sendiri, juga menyelenggarakan beberapa kelas dan pelatihan di beberapa tempat di mana peserta menghendakinya. Melalui BelajarArabMudah.Com, saya berharap agar kemudahan dalam belajar bahasa Arab seperti yang selama ini dijalani oleh berbagai kalangan, dapat dirasakan lebih luas lagi oleh berbagai lapisan masyarakat. Mudah dalam belajar, juga mudah dalam mengajar.

Di rumah, untuk anak-anak tetangga dan masyarakat sekitar, kami mendirikan pesantren Al-Quran, yang diberinama MQA, Ma`had Al-Quran wal Arabiyah. Di sini pula kami menyelenggarakan Majlis Zikir Shafawiyah bersama warga masyarakat.

Beberapa buku kebahasaan yang telah ditulis, diterbitkan, dan digunakan sebagai buku-buku ajar, adalah semisal: (1) Al-Muqaddimah (4 jilid), (2) Al-Asas, (3) Al-Mahir (3 jilid), (4) Al-Yasir, (5) Al-Bidayah, (6) Al-Balagh, (7) Al-Washil, (8) Al-Mazaya, (9) Al-Mumtaz, (3 jilid), (10) Ya Mawlaya, (11) Kumpulan Mahfuzhat Pilihan, (12) Start Englsih (2 jilid), dan lain-lain.

Sedangkan buku-buku non-kebahasaan adalah seperti: (1) Mencintai Tuhan Lewat Perempuan, (2) Berbedalah, Kau Kan Ada, (3) Di Manakah Engkau, Tuhan, (4) Maafkan Aku, Ya Rasul, (5) Mengapa Engkau Enggan Mati, (6) Kuingin Mereka Tersenyum, (7) SuperCerdas dengan HomeSchooling, (8) Setiap Orang Dilahirkan Cerdas, (9) Bergeraklah, Diam Berarti Mati, (10) Jadilah EduPreneur. Semuanya diterbitkan oleh AL-SHAFA.

Buku berikutnya adalah (11) Difference for Excellence, (12) Diam Bukan Emas, yang diterbitkan oleh Penerbit Oase. Buku terjemahan saya yang juga diterbitkan oleh Oase adalah Ibadah Sufistik dan Orasi-orasi Muhammad Sang Rasul.

Buku-buku lain yang belum diterbitkan adalah semisal: (1) Kembalilah Kepada-Ku dengan Sukarela, (2) Khadijah Sang Perawan Kaya, (3) Jadilah Orang Lain (Be The Other!), dan lain-lain…

Berbahagia menikah dengan Euis Nining Kartini pada Mei 1998, dan kini telah dikarunia tiga orang putera, yakni (1) Rais Vaza Man Tazakka, (2) Varas Awla Zakan Tajalla, dan (3) Vathar Hayy Shavin Tawalla. Semoga mereka kelak menjadi anak-anak saleh, yang mendoakan kebaikan bagi kedua orangtuanya, dan mengkreasi manfaat bagi sebanyak-banyak umat. Amien…

Demikian Sahabat…. semoga bermanfaat

Salam… fastabiqul khayrat…

Ashoff Murtadha

PENCERAHAN UNGGUL

Hidup adalah satu hal.
Sedangkan menciptakan makna hidup adalah hal lain...
Hidup adalah rutinitas yang biasa.
Cacing tanah pun bisa melakukannya.
Maka, agar berbeda dari cacing dan sejenisnya, atau bahkan lebih buruk dari itu,
CIPTAKANLAH MAKNA...

PERMULAAN UNGGUL

Mulailah mencipakan keunggulan...
---menciptakan makna dalam hidup...
Dan mulailah dari satu.. Start from one...!
CIPTAKAN SATU...!!! LAHIRKAN SERIBU...!!!
free counters
Klub Bisnis Internet Berorientasi Action

Site Sponsors