HIDUP ADALAH MENGKREASI MAKNA
Hidup adalah anugerah, kenikmatan yang harus disyukuri.
Semua yang hidup, pasti sedang menikmati anugerah tersebut.
Tapi sungguh tidak banyak yang bisa menjadikannya bermakna.
Hidup adalah satu hal.
Sedangkan menciptakan makna hidup adalah hal lain.
Hidup adalah rutinitas yang biasa.
Cacing tanah pun bisa melakukannya.
Kondisi masih bernyawa, mereguk kebebasan, menghabiskan sisa usia, atau memiliki banyak peluang dan kesempatan, itu semua adalah kenikmatan, tapi semuanya itu bukan kebanggaan. Semuanya bukan kemuliaan atau keagungan. Kenikmatan malah tidak jarang menggelincirkan penikmatnya pada kehinaan dan kerendahan...
Sungguh... Kemuliaan ada pada MAKNA yang berhasil diciptakan.
Keagungan ada pada NILAI yang diperjuangkan...
Kebanggaan ada pada sesuatu yang berhasil DICAPAI dan DIUSAHAKAN dengan susah payah...
Kemuliaan, keagungan, juga kebanggaan tidak pernah ada pada sesuatu yang diberikan, melainkan pada sesuatu yang diupayakan...
Dan hidup mulia adalah sejarah perjuangan menciptakan makna...
Sebanyak mungkin, seberkualitas mungkin, seluas mungkin...
Dan itu pasti menuntut kerja keras, keperihan, keteguhan dan keyakinan...
HIDUP MULIA tidak terdapat pada sesuatu yang DIBERI, melainkan pada sesuatu yang DICARI dan DIKREASI....
Maka, berkreasilah... berkaryalah... bermaknalah....
Hiduplah dengan menciptakan makna, agar kelak meraih makna....
Terus berbuat.... sekalipun hasilnya belum bisa kita lihat sekarang....!!
(Ashoff Murtadha)
Hidup adalah Mengkreasi Makna
Ciptakan Satu, Kaulahirkan Seribu
CIPTAKAN SATU... KAULAHIRKAN SERIBU
Ini adalah prinsip produktivitas dan kreativitas....
Jika kita ingin mendapatkan banyak hal, maka mulailah dari satu...
Yang satu pada saatnya akan memantik gagasan baru, untuk melahirkna dua, tiga, sepuluh dan seterusnya... Sehingga muncullah produktivitas, kreativitas, inovasi, ide-ide cemerlang yang belum pernah terpikirkan saat kita baru saja memulai yang satu...
Karenanya, untuk melahirkan banyak hal yang produktif, maka mulailah dari satu. Dari situlah kemudian kita akan dipandu untuk melahirkan banyak hal yang baru. Jika kita menginginkan banyak hal dalam hidup, maka kita tidak harus membayangkan, memikirkan apalagi mengerjakan semuanya sekarang ini.
Untuk meraih banyak hal yang kita harapkan, yang harus kita kerjakan sekarang adalah memulai SATU TINDAKAN, sebuah action, yang kita anggap real, logis dan mampu kita lakukan saat ini... Kelak, ketika kita terus menggeluti tindakan yang satu itu, maka ia akan membimbing kita untuk menemukan dan mengerjakan dua, empat, dan delapan tindakan berikutnya... Dan akan terus bermunculan ide-ide baru, gagasan-gagasan baru, dan tindakan-tindakan baru, yang sebelumnya bisa jadi tidak pernah kita bayangkan dan pikirkan sama sekali...
Bila kita menginginkan seribu hasil, maka mulailah sebuah tindakan.
Karena, satu tindakan kelak akan melahirkan seribu hal...
Bilamana satu telah kita ciptakan, maka selanjutnya kita akan melahirkan hal-hal baru berikutnya...
Percuma saja kita memiliki seribu gagasan cemerlang namun tak satu pun berhasil kita wujudkan....
Sungguh.... SATU GAGASAN SEDERHANA yang berhasil diwujudkan, jauh lebih baik daripada SERIBU GAGASAN LUAR BIASA yang hanya berputar-putar di kepala pemiliknya...
Jadi....
Start from one!....
Create one... Get one thousand...!!!
Ciptakan satu, kaulahirkan seribu.
--Ashoff Murtadha--
Sekilas Profil
Bismillah...
Assalamu alaikum…
Ahlan Sahabat…!
Perkenalkan… nama saya Ashoff Murtadha, lahir 26 Oktober 1971, di sebuah desa yang diapit oleh tiga kabupaten di timur Jawa Barat, yakni Majalengka, Indramayu dan Cirebon. Tradisi desa membuat para penduduknya bertutur dengan bahasa Jawa Cerbonan. Namun secara administratif-politik, desa tempat saya lahir dan tumbuh termasuk bagian dari wilayah Kabupaten Majalengka.
Setelah menempuh pendidikan formal di MI, SD dan MTs di desa, juga ditempa pendidikan ba`da maghrib berupa ilmu-ilmu keislaman oleh ayahanda almarhum, juga oleh uwa dan mamang, saya belajar di Pondok Modern Gontor selama 6 tahun, pada tahun 1985-1991. Ketika itu Gontor baru ada satu, yakni hanya di Ponorogo Jawa Timur, dan hanya ada untuk putra saja.
Selama 6 tahun saya belajar dan nyantri di pondok pesantren yang kini memiliki belasan cabang dan ratusan cabang pesantren alumni itu. Saya masuk ke Gontor ketika pesantren ini baru saja sebulan ditinggal oleh KH. Imam Zarkasyi, pendiri terakhir sekaligus Trimurti terakhir dari pesantren ini. Dua dari pendiri dan Trimurti lainnya adalah KH Ahmad Sahal dan KH Zainudin Fannani, yang menghadap Allah Swt. lebih dahulu.
Kelas 1 di KMI Gontor, saya ditempatkan di Kelas 1 J, sebuah kelas yang menempati posisi kedua dari bawah. Ini adalah kelas paling bawah kedua setelah kelas K. Kelas paling tinggi dimulai dari B, lalu C, dan seterusnya hingga K (ada 10 kelas). Di Gontor, urutan kelas B, C, D, dan seterusnya itu menunjukkan peringkat akademis dan suluk (perilaku, akhlak). Saat kelas 2, saya berada di kelas B (saat kelas 2 ada 12 kelas, yakni dari kelas B hingga kelas M). Posisi B ini terus berlanjut saat naik ke kelas 3, 4, 5, hingga 6. Sempat menerima pengajaran langsung di kelas 5 dan 6 oleh KH Abddullah Syukri (pelajaran manthiq), KH Shoiman Lukmanul Hakim (pelajaran fiqh), KH Imam Badri (pelajaran tarbiyah), juga KH Hasan Abdullah Sahal (pelajaran murattal Al-Quran) di masjid jami`. Mereka adalah para pemimpin generasi kedua dari pesantren besar ini.
Saat yudisium kelulusan kelas 6, tahun 1991, dari sekitar 400 an santri, alhamdulillah dipanggil dalam rombongan santri mumtaz (excellent), pada panggilan pertama. Artinya, menempati posisi pertama di antara para santri mumtaz. Puluhan santri mumtaz yang lainnya dipanggil menyusul kemudian. Setelah lulus dari kelas 6 KMI Gontor, saya mendapat “anugerah” kesempatan untuk mengabdi di tempat mana saja yang saya pilih, artinya tidak diwajibkan mengabdi di Gontor atau salah satu cabang alumninya. Sebelumnya memang saya pernah berkonsultasi dengan salah seorang dewan asatidz yang kebetulan wali kelas saya saat kelas 6, yakni Ust. Sofwan Manaf (kini kyai pimpinan Ponpes Darunnajah Jakarta). Intinya saya menyampaikan kepada beliau bahwa kondisi fisik saya sedang tidak sehat, sehingga –jika diperkenankan– saya akan mengabdikan sedikit ilmu saya di luar pesantren saja, yakni di masyarakat. Dan alhamdulillah… dikabulkan. Itulah yang saya maksud dengan “anugerah”.
Selama kurang lebih 7 bulan, setelah selesai dari Gontor, saya mencoba menerjemahkan buku bahasa Arab, dengan bimbingan Agus Efendi, seorang alumni Gontor juga –seorang sosok yang sangat cerdas, kaya dengan “crazy ideas” dan full imajinasi, supermotivatif, dan dahsyat….
Pada tahun 1992-1997, saya menyelesaikan pendidikan S1 di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, jurusan Aqidah-Filsafat, Fakultas Ushuluddin. Alhamdulillah, orangtua telah mendidik kami untuk mandiri, sehingga saya bisa berkontribusi kepada orang tua tercinta, yakni dengan membiayai sendiri SPP kuliah sejak semester 1 hingga selesai. Lulus cumlaude dengan menyelesaikan skripsi yang berjudul “Memahami Agama Hanif” –skripsi yang sejak awal penyusunannya sudah disiapkan untuk menjadi buku. Aktif menulis saat mahasiswa, dan beberapa tulisannya pernah dimuat di Harian Kompas, Media Indonesia, dan jurnal pemikiran Al-Hikmah. Juga aktif menerjemahkan buku, dan pernah mengikuti Lomba Karya Tulis dalam Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa, dan meraih juara 2 –dengan hadiah sejumlah uang yang cukup besar ketika itu. Pada saat semester 8 saya kuliah sambil bekerja dengan mengajar dan menyunting buku, salah satunya di penerbit Mizan. Aktivitas-aktivitas inilah yang membukakan peluang saya untuk bisa “setengah mandiri” saat kuliah –yakni membiaya sendiri semua SPP. Alhamdulillah….
Sahabat…
Ada pengalaman menantang saat saya kuliah semester 3-4, yang selalu saya ingat hingga sekarang –pengalaman yang tidak jarang saya ceritakan kembali kepada beberapa kalangan mahasiswa yang membutuhkan motivasi hidup….
Ketika itu (tahun 1994) saya biasa menerima kiriman uang living cost dari ibunda sebesar Rp 100.000. Uang sebesar itu harusnya saya gunakan untuk kebutuhan makan saya selama satu bulan –begitu memang alokasi yang ibu saya maksudnya. Kebetulan saya masih memiliki beberapa ribu sisa bulan sebelumnya. Hari berikutnya saya pergi ke pasarbuku Palasari Bandung (yang biasa memberikan diskon hingga 25-30 %). Karena banyak buku yang menarik minat baca, ditambah dengan diskon yang besar, akhirnya semua uang kiriman dari ibunda itu saya habiskan untuk membeli buku. Bahkan sisa uang beberapa ribu pun ikut pindah saku, ke saku pedagang buku.
Sepulang membeli buku, saya masih memiliki sisa uang untuk makan hari itu saja. Untuk besok, saya tidak punya lagi. Saya sadar bahwa saya sudah tidak memiliki uang untuk makan selama sebulan ke depan. Tapi saya juga sadar bahwa saya harus membeli sejumlah buku itu –yang hanya bisa saya beli dengan menghabiskan seluruh kiriman dari ibunda… Saya bertawakkal, yakin bahwa Allah Swt. akan memberi jalan. Dan jelas, saya tidak mungkin meminta lagi sejumlah uang kepada ibunda. Sebab, jika saya memintanya lagi, itu bukan saja berarti bahwa saya mengambil hak 3 adik saya yang lain, tetapi juga itu menunjukkan bahwa saya tidak bertanggungjawab terhadap pilihan yang telah diambil. Itu tentu bukan akhlak yang baik….
Maka, pada hari itu juga saya menulis sebuah artikel, dengan mereferensi pada buku-buku yang baru saya beli. Artikel itu saya maksudkan untuk 3 tujuan: Pertama untuk membuat tugas kuliah (matakuliah Filsafat Agama). Kedua untuk saya kirim ke koran. Dan ketiga untuk saya lombakan dalam Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa.
Apa yang terjadi kemudian? Yang jelas, untuk kebutuhan makan selama satu minggu, saya pinjam sejumlah uang kepada teman satu kost. Adapun tugas kuliah, keesokan harinya saya serahkan ke dosen, dan hasilnya adalah saya mendapatkan nilai C –nilai lulus yang paling buruk, karena yang paling baik adalah nilai A lalu B, sedangkan nilai D dianggap tidak lulus. Namun beberapa hari kemudian, artikel saya dimuat di Harian Kompas –saat itu sangat jarang mahasiswa, apalagi semester 3-4, yang tulisannya dimuat di Kompas, bahkan para dosen sekalipun. Teman-teman di kampus geger, karena ada mahasiswa IAIN yang tulisannya dimuat di Harian Kompas. Mereka lebih tidak percaya lagi ketika saya beritahu bahwa artikel yang sama justeru mendapat nilai C dari pak dosen. Seminggu berikutnya, Kompas mengirim wesel dengan nominal Rp 300.o00.
Pada bulan yang sama, artikel itu saya sempurnakan lagi untuk ikut lomba. Singkat cerita, artikel itu memenangkan juara 2, dan berhak atas atas uang Rp 600.000. Beberapa minggu berikutnya artikel lain saya dimuat oleh Harian Media Indonesia. Referensinya sama: buku-buku yang beli dengan menghabiskan uang makan dari ibunda itu. Media Indonesia mengirimkan wesel dengan nominal Rp 135.000.
Dihitung-hitung, uang yang saya terima dari pembelian buku-buku itu adalah Rp 1.035.000. Ini sepuluh kali lipat dari uang yang saya gunakan untuk membelinya. Maka, utang saya lunasi. SPP semesteran dibayarkan. Dan uang makan pun telah kembali, lebih dari sebelumnya… Saya memaknai pengalaman ini sebagai karunia Allah yang bersumber dari sebuah pilihan dan niat yang saya pandang baik. Tawakkal dan keyakinan terhadap kemurahan-Nya pasti melempangkan jalan yang luas dan lapang… Ini pengalaman yang selalu saya ingat… menantang dan berkesan…
Sahabat…
Usai kuliah, saya mencoba mengkonseptualisasi supermetodologi pengajaran bahasa Arab untuk berbagai target dan capaian kompetensi, sekaligus mensosialisasikan dan mengembangkannya. Pada tahun 2000, bersama beberapa teman –dengan pembagian tugas yang berbeda– saya mendirikan AL-SHAFA INSTITUTE for Life Excellence, sebuah pusat belajar kompetensi dan keunggulan, khususnya di bidang bahasa. Di lembaga ini pula saya coba mengenalkan, mensosialisasikan dan mengembangkan konsep edupreneurship –wirausaha pendidikan. AL-SHAFA pulalah yang sekaligus saya jadikan sebagai laboratorium penelitian yang sangat berarti dalam pengembangan konsep-konsep metodologis yang saya sosialiasikan.
Saat ini, aktivitas sehari-hari adalah berkreasi, mengajar, memberikan pelatihan bahasa, mengkonseptualisasi, meneliti, berkarya, menerjemahkan dan menulis buku. Selain menyelenggarakan kelas bahasa di lembaga AL-SHAFA INSTITUTE sendiri, juga menyelenggarakan beberapa kelas dan pelatihan di beberapa tempat di mana peserta menghendakinya. Melalui BelajarArabMudah.Com, saya berharap agar kemudahan dalam belajar bahasa Arab seperti yang selama ini dijalani oleh berbagai kalangan, dapat dirasakan lebih luas lagi oleh berbagai lapisan masyarakat. Mudah dalam belajar, juga mudah dalam mengajar.
Di rumah, untuk anak-anak tetangga dan masyarakat sekitar, kami mendirikan pesantren Al-Quran, yang diberinama MQA, Ma`had Al-Quran wal Arabiyah. Di sini pula kami menyelenggarakan Majlis Zikir Shafawiyah bersama warga masyarakat.
Beberapa buku kebahasaan yang telah ditulis, diterbitkan, dan digunakan sebagai buku-buku ajar, adalah semisal: (1) Al-Muqaddimah (4 jilid), (2) Al-Asas, (3) Al-Mahir (3 jilid), (4) Al-Yasir, (5) Al-Bidayah, (6) Al-Balagh, (7) Al-Washil, (8) Al-Mazaya, (9) Al-Mumtaz, (3 jilid), (10) Ya Mawlaya, (11) Kumpulan Mahfuzhat Pilihan, (12) Start Englsih (2 jilid), dan lain-lain.
Sedangkan buku-buku non-kebahasaan adalah seperti: (1) Mencintai Tuhan Lewat Perempuan, (2) Berbedalah, Kau Kan Ada, (3) Di Manakah Engkau, Tuhan, (4) Maafkan Aku, Ya Rasul, (5) Mengapa Engkau Enggan Mati, (6) Kuingin Mereka Tersenyum, (7) SuperCerdas dengan HomeSchooling, (8) Setiap Orang Dilahirkan Cerdas, (9) Bergeraklah, Diam Berarti Mati, (10) Jadilah EduPreneur. Semuanya diterbitkan oleh AL-SHAFA.
Buku berikutnya adalah (11) Difference for Excellence, (12) Diam Bukan Emas, yang diterbitkan oleh Penerbit Oase. Buku terjemahan saya yang juga diterbitkan oleh Oase adalah Ibadah Sufistik dan Orasi-orasi Muhammad Sang Rasul.
Buku-buku lain yang belum diterbitkan adalah semisal: (1) Kembalilah Kepada-Ku dengan Sukarela, (2) Khadijah Sang Perawan Kaya, (3) Jadilah Orang Lain (Be The Other!), dan lain-lain…
Berbahagia menikah dengan Euis Nining Kartini pada Mei 1998, dan kini telah dikarunia tiga orang putera, yakni (1) Rais Vaza Man Tazakka, (2) Varas Awla Zakan Tajalla, dan (3) Vathar Hayy Shavin Tawalla. Semoga mereka kelak menjadi anak-anak saleh, yang mendoakan kebaikan bagi kedua orangtuanya, dan mengkreasi manfaat bagi sebanyak-banyak umat. Amien…
Demikian Sahabat…. semoga bermanfaat
Salam… fastabiqul khayrat…
Ashoff Murtadha
Pindah Alamat Blog
prinsip unggul
Blog Unggul
Link Unggul
Artikel Unggul
TEMA UNGGUL
2. Hafal Al-Quran Hadits
3. Keislaman
4. Motivasi
5. Peluang Bisnis
6. Konsultasi Bahasa Arab
7. Resensi Buku
Resensi Buku Unggul
- Berbedalah! Kau `Kan Ada
- Diam Bukan Emas
- Difference for Excellence
- Kembalilah Kepada-Ku dengan Sukarela
- Mencintai Tuhan Lewat Perempuan
Apa jawaban Anda, jika Anda bertanya pada diri sendiri, "Apakah hidupku telah menciptakan makna bagi manusia?"
Member Unggul
PENCERAHAN UNGGUL
Sedangkan menciptakan makna hidup adalah hal lain...
Hidup adalah rutinitas yang biasa.
Cacing tanah pun bisa melakukannya.
Maka, agar berbeda dari cacing dan sejenisnya, atau bahkan lebih buruk dari itu,
CIPTAKANLAH MAKNA...
PERMULAAN UNGGUL
---menciptakan makna dalam hidup...
Dan mulailah dari satu.. Start from one...!
CIPTAKAN SATU...!!! LAHIRKAN SERIBU...!!!



